loading...
Home » » Ancaman meninggalkan sholat Hadits 7

Ancaman meninggalkan sholat Hadits 7

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 07 February 2017

Ancaman meninggalkan sholat



Hadits 7
Sebagian ulama berkata seperti disebutkan dalam sebuah hadits “Barangsiapa menjaga shalatnya, maka Allah Swt. akan memuliakannya dengan lima perkara:

1. Allah Swt. akan mengangkat kesempitan hidup darinya.
2. Menyelamatkannya dari azab kubur.
3. Allah memberinya catatan dmal dari tangan kanan.
4. Dia akan melintasi shirat secepat kilat.
5. Dia akan masuk surga tanpa hisab.

Dan barangsiapa melalaikan shalatnya, maka Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Lima siksaan akan diberikan di dunia, tiga ketika mati, tiga di dalam kubur, dan tiga ketika keluar dari kubur.

Ancaman meninggalkan sholat Hadits 7

Lima azab yang akan ditimpakan di dunia, yaitu:


1. Akan dicabut keberkahan umurnya.
2. Ciri-ciri kesalehan akan dicabut dari wajahnya.
3. Setiap amalan yang dilakukannya tidak akan diberikan pahala oleh Allah Swt.
4. Doanya tidak akan diangkat ke langit.
5. Tidak akan mendapat bagian dari doa orang-orang yang saleh.


Adapun musibah yang akan menimpanya ketika akan mati, yaitu:


1. Dia akan mati dalam keadaan hina.
2. Dia akan mati dalam keadaan lapar.
3. Dia akan mati dalam keadaan haus sehingga walaupun diberi air minum sepenuh lautan, tidak akan hilang rasa hausnya.


Adapun azab yang akan ditimpakan di alam kubur yaitu:


1. Kubur akan menyempit baginya sehingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.
2. Akan dinyalakan api di dalam kuburnya sehingga dia akan diguling-gulingkan di atasnya siang dan malam.
3. Allah Swt. akan memasukkan ular ke dalam kuburnya yang bernama Syuja’ul Aqra, dan ular itu akan menguasainya. Kedua matanya terbuat dari api dan kukunya dari besi. Panjang setiap kukunya adalah sehari perjalanan.

Dia akan berkata kepada si mayit, ‘Saya adalah Syuja’ul Aqra” Suaranya bagaikan petir yang menggelegar. Ia berkata lagi, ‘Rabb-ku telah memerintahkanku untuk memukulmu karena rnelalaikan shalat Shubuh sampai terbit matahari, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Zhuhur sampai Ashar, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Ashar sampai matahari tenggelam, dan memukulmu karena rnelalaikan shalat Maghrib sampai masuk waktu Isya, dan shalat Isya sampai masuk waktu Shubuh. Setiap kali ia memukulnya sebanyak satu kali pukulan, maka ia akan terbenam ke burnt sedalam 70 hasta. Dia akan senbantiasa disiksa sampai hari Kiamat.


Adapun musibah yang menimpanya ketika ia keluar dari kubur dan dibangkitkan pada hari Kiamat adalah:


1. Hisabnya sangat keras.
2. Allah akan marah padanya.
3. Dia akan dilemparkan ke neraka

Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa orang yang melalaikan shalat pada hari kiamat kelak pada wajahnya tertulis tiga baris tulisan yang berbunyi:

1. Wahai yang menyia-nyiakan hak Allah.
2. Wahai yang dikhususkan dengan kemarahan Allah.
3. Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka pada hari ini engkau akan berputus asa dari rahmat Allah.

Walaupun seluruh hadits ini tidak saya temukan di dalam kitab-kitab hadits yang umum, namun berbagai macam pahala dan azab yang dijelaskan di dalamnya banyak sekali dikuatkan oleh beberapa riwayat yang lain. Beberapa riwayat di antaranya telah disebutkan dan riwayat lain akan menyusul. Dalam hadits pertama disebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat berarti ia telah keluar dari Islam, betapa besar azabnya. Oleh karena itu penting untuk diketahui balasan-balasan bagi yang meninggalkan shalat, baik yang telah disebutkan maupun yang akan menyusul. Sekalipun telah ditetapkan azab atas perbuatan ini yang dianggap sebagai perbuatan dosa, tetapi Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mangampuni dosa syirik dan akan meng-ampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Menurut ayat-ayat dan hadits-hadits di atas, apabila Allah Swt. berkenan memaafkan, maka itu adalah suatu keberuntungan. Dalam hadits-hadits dikatakan bahwa pada hari Kiamat akan ada tiga pengadilan, yaitu :

1. Pengadilan antara kufur dan Islam, yang tidak ada pengampunan di dalamnya.

2. Pengadilan mengenai hak-hak manusia. Dalam pengadilan ini orang-orang yang mengambil hak saudaranya di dunia, maka pasti haknya akan diambil oleh saudaranya sebagai pertanggungjawaban atau dia akan dimaafkan oleh orang yang diambil haknya.

3. Pengadilan mengenai hak-hak Allah. Dalam pengadilan ini pintu pengampunan terbuka luas. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa balasan-balasan atas perbuatan kita telah disebutkan dalam banyak hadits. Namun kemurahan-kemurahan Allah tidak berbatas untuk mengatasi semua itu.

Selain itu berbagai azab dan pahala juga disebutkan dalam hadits-hadits. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa kebiasaan Rasulullah saw. setelah shalat Shubuh adalah bertanya kepada para sahabatnya, mungkin seseorang di antara mereka ada yang bermimpi dalam tidurnya. Jika ada yang bermimpi maka ia akan menceritakannya dan beliau akan menerangkan arti mimpinya. Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya seperti biasanya, setelah itu beliau bersabda, “Aku melihat dalam mimpiku, dua orang datang dan membawaku bersama mereka.” Setelah itu Rasulullah saw. menceritakan tentang mimpinya yang panjang, di antaranya surga, neraka, dan berbagai azab yang sedang ditimpakan kepada orang-orang. Di antara mereka ada seseorang yang beliau lihat kepalanya sedang dipukul dengan batu, begitu kerasnya lemparan batu tersebut sehingga batu itu terpental dan terlempar jauh dari kepala itu. Tak lama kemudian diapun dibangkitkan kembali dengan kepala yang utuh seperti semula. Kemudian dia dipukul dengan sangat keras untuk kedua kalinya. Dan siksaan itu terus menerus terjadi pada dirinya. Rasulullah saw., bertanya kepada kedua temannya, “Siapakah orang-orang ini?” Mereka menjawab, “Dia adalah orang yang ‘dahulunya membaca al Qur’an tapi kemudian meninggalkannya dan tidur tanpa mengerjakan shalat fardhu.

Dalam hadits-hadits yang lain terdapat pula kisah-kisah seperti itu, di antaranya : Rasullulah saw. melihat segolongan orang yang disiksa seperti itu lalu bertanya kepada Jibril siapakah mereka, Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang malas mengerjakan shalat. (at Targhib)

Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan waktu-waktu shalat maka dia akan mendapatkan keberkahan-keberkahan sebagaimana yang dinugerahkan kepada nabi Ibrahim a.s. dan anaknya.” (Durrul Mantsur)

Dari Anas r.a. berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan dunia ini dalam keadaan beriman dengan ikhlas, mengerjakan shalat dan membayar zakat maka dia akan keluar dari dunia ini dalam keadaan Allah ridha kepadanya.”

Anas r.a. juga meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa Allah Swt. berfirman, “Aku ingin sekali menurunkan azab pada suatu tempat, tetapi ketika Aku melihat di sana ada orang-orang yang memakmurkan masjid, ada yang saling mencintai satu sama lain karena Allah, dan ada orang yang ber-istighfar di akhir malam, maka Aku tangguhkan azab-Ku.” (Durrul Mantsur)
Abu Darda r.a. mengirim surat kepada Salman yang di dalamnya tertulis, “Gunakanlah kebanyakan waktumu di dalam masjid.” Saya pernah men-dengar Rasulullah saw. bersabda, “Masjid adalah rumah orang-orang yang bertakwa dan Allah Swt. telah berjanji, ‘Barangsiapa yang banyak meng-gunakan waktunya di dalam masjid, maka Aku akan merahmatinya, Aku akan memberikan ketentraman kepadanya, Aku akan memberi kemudahan kepa-danya ketika melintas shirath pada hari Kiamat kelak, dan Aku akan ridha kepadanya.”

Abdullah bin Mas’ud r.a meriwayatkan dari Rasulullah saw., “Masjid adalah rumah Allah. Orang yang mendatangi rumah seseorang maka dia akan dihormati oleh pemiliknya, begitu pula orang yang mendatangani rumah Allah Swt. (masjid), maka pasti Allah Swt. akan menghormatinya.”

Abu Said al Khudri r.a meriwayatkan dari Rasulullah saw., “Barangsiapa mencintai masjid maka Allah akan mencintainya.”

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah saw., “Apabila mayat telah dibaringkan di dalam kubur dan orang yang menyertai mayat tadi belum kembali ke rumahnya, maka pada saat itu malaikat datang untuk menanyai-nya. Apabila orang yang dikubur itu orang yang beriman, maka shalatnya akan berada dekat dengan kepalanya dan zakatnya berada di sebelah kanannya, puasa berada di sebelah kirinya dan berapa banyak amal baik yang ia kerjakan semuanya berada di samping kakinya dan mengelilingi mayat tadi, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mendekatinya. -Malaikat pun akan bertanya kepadanya sambil berdiri jauh dari kepalanya.”

Seorang sahabat berkata, “Apabila keluarga Rasulullah saw. ditimpa kesempitan hidup maka Rasulullah menyuruh mereka melaksanakan shalat dan membaca ayat ini:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah atasnya, kami tidak meminta rezeki darimu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (Qs. Thaha ayat 132)

Asma r.a. berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan pada satu tempat dan suara yang diumumkan oleh malaikat pasti didengar oleh seluruh manusia. Pada waktu itu diumumkan, ‘Di manakah orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun susah?’ Mendengar seruan ini. maka satu rombongan manusia berdiri lalu masuk surga tanpa hisab.

Kemudian diumumkan lagi, ‘Di manakah orang-orang yang menghabiskan waktu malamnya sibuk dengan beribadah dan lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya?’ Maka satu rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab. Kemudian seruan berikutnya, ‘Di manakah orang-orang yang per-niagaan dan jual belinya tidak melalaikannya dari mengingat Allah?’ Maka satu rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab.”

Kisah seperti ini diceritakan juga dalam hadits lain dengan penambahan bahwa nanti akan diumumkan, “Sekarang ini seluruh penduduk Mahsyar akan mengetahui siapakah orang yang paling mulia. Juga diumumkan, “Di manakah orang-orang yang kesibukan bisnisnya tidak melalaikan dia dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.” (Durrul Mantsur)

Syeikh Nasir Samarqandi rah. a. juga menulis hadits ini dalam kitab Tanbiihul Ghaafilin dan dia menambahkan bahwa setelah ketiga golongan tadi semua masuk surga tanpa hisab, maka keluarlah dari neraka Jahanam seekor ular yang lehernya sangat panjang, kedua matanya menyala dan bisa berbicara dengan fasih, lalu ular itu menggiring manusia menuju ke depannya. Ular itu berkata, “Aku diperintahkan untuk menguasai setiap orang yang sombong dan buruk akhlaknya.” Maka dia mematuk orang-orang itu seba-gaimana binatang mematuk biji-bijian.

Semuanya dipatuk dan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Setelah itu dia keluar untuk yang kedua kalinya dan berkata, “Aku akan menguasai setiap orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Maka orang-orang itupun dipatuk dan dibawa ke dalam neraka Jahanam secara beramai-ramai. Setelah itu dia muncul kembali dan mematuk orang-orang yang suka menggambar dan melukis (makhluk hidup) dan membawanya ke neraka Jahanam setelah ketiga golongan manusia ini dimasukan ke dalam neraka Jahanam barulah dimulai hisab bagi manusia lainnya.

Diriwayatkan pada zaman dahulu manusia dapat melihat syetan, seorang shahib berkata kepada syetan, “Beritahukan kepadaku bagaimana caranya agar aku bisa menjadi seperti kamu.” Syetan berkata, “Sampai hari ini aku tidak pernah mendapati orang yang bertanya seperti kamu, apa perlumu bertanya seperti itu.” Shahib itu berkata, “Hatiku ingin seperti itu.” Syetan menjawab, “Jika kamu ingin menjadi seperti aku, bermalas-malasanlah dalam shalat, janganlah takut dalam bersumpah, dan bersumpahlah baik bohong ataupun benar.” Shahib berkata, “Saya berjanji kepada Allah, bahwa saya sekali-kali tidak akan meninggalkan shalat dan saya sekali-kali tidak akan bersumpah.” Syetan berkata, ‘Tidak ada seorangpun yang begitu cerdik selain kamu, dan aku berjanji tidak akan pernah memberikan satu nasehatpun kepada seseorang.”

Ubay r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada umat ini mengenai ketinggian, kemuliaan dan kemenangan agama mereka. Tetapi bagi orang yang mengerjakan satu amal agama untuk dunia maka tidak ada bagian baginya di akherat nanti.” (At Targhib)

Diriwayatkan dalam satu hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku pernah berjumpa dengan Allah dalam wajah yang paling indah, Dia berfirman kepadaku, *Wahai Muhammad, apakah yang sedang diperbantahkan oleh para malaikat?’ Aku menjawab, ‘Saya tidak tahu.’ Maka Allah Suit, meletakan tangan-Nya yang mulia di atas dadaku sehingga terasa sejuk sampai ke dadaku dan dengan sebab keberkahan-Nya itulah seluruh alam ini terbentang luas di hadapanku, kemudian Dia berfirman kepadaku, ‘Sekarang ceritakanlah yang sedang diperbantahkan oleh Malaikat?’ Aku berkata, ‘Mereka berbantah-bantahan mengenai perkara yang meninggikan derajat, perkara-perkara yang menyebabkan gugurnya dosa, mengenai pahala langkah setiap kaki yang menuju shalat berjamaah, mengenai keutamaan wudhu secara sempurna di waktu dingin, dan mengenai keutamaan duduk selepas shalat sambil menunggu shalat yang lain. Barangsiapa yang menjaga itu semua, maka dia akan menjalani kehidupannya dalam keadaan yang terbaik dan akan mati dalam keadaan yang terbaik pula.”

Dalam hadits Qudsi yang lain Allah Swt. berfirman, “Wahai anak Adam, kerjakanlah shalat empat rakaat di awal hari, niscaya Aku menyelesaikan seluruh urusanmu pada hari itu.”
Dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin terdapat sebuah hadits yang menye-butkan bahwa shalat adalah penyebab datangnya ridha Allah, amal yang dicintai para malaikat, sunnah para nabi, dengannya akan lahir cahaya ma’rifat dan doa akan dikabulkan, memberkahkan rezeki, shalat sebagai akar keimanan, menyehatkan badan, senjata melawan musuh, pembela bagi orang yang melaksanakannya, cahaya dalam kubur, sebagai penenang hati dari kecemasan dalam kubur, memudahkan menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir, naungan dari panasnya hari Kiamat, cahaya dalam kegelapan kubur, tameng dari api neraka Jahanam, yang memberatkan timbangan amal, mempercepat ketika melintas titian shirath, dan kunci surga.”

Ibnu Hajar rah.a. meriwayatkan dalam kitab al Munabbihat dari Utsman bin Affan, “Barangsiapa menjaga shalat dan memperhatikan waktu-waktunya dengan teratur, maka Allah Swt. akan memuliakannya dengan sembilan perkara: 1) Allah akan mencintainya; 2) Allah akan memberinya kesehatan; 3) Malaikat akan melindunginya; 4) memberikan keberkahan dalam rumahnya; 5) nampak cahaya kesalehan pada wajahnya; 6) Allah akan melembutkan hatinya; 7) akan melintasi titian shirath secepat kilat; 8. Allah akan menyelamatkannya dari neraka Jahanam; 9) tetangganya di akhirat kelak adalah orang-orang yang dikatakan dalam al Quran: ‘Tidak ada ketakutan bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Shalat adalah tiang agama dan mempunyai sepuluh kebaikan: 1) daya tarik pada wajah; 2) cahaya dalam hati; 3) sebagai sarana untuk menyegarkan dan menyehatkan badan; 4) penghibur dalam kubur; 5) sarana untuk menarik rahmat Allah; 6) kunci untuk membuka pintu langit; 7) memberatkan timbangan amal kebaikan; jalan untuk memperoleh keridhaan Allah; 9) harga bagi surga; 10) pelindung dari api neraka.”

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat berarti menegakkan agama, dan barangsiapa meninggalkan shalat berarti meruntuhkan agama.” Dalam hadits lain disebutkan, “Rumah yang di dalamnya ditegakkan shalat, akan memancarkan cahaya. Karena itu sinarilah rumahmu dengan shalat (sunnah).” (Jami’us ’Shaghir)

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan bahwa Rasulullah saw. ber¬sabda, “Pada hari Kiamat nanti, tangan, kaki dan wajah orang-orang yang suka berwudhu dan sujud akan bercahaya, sehingga mereka akan mudah dikenali dari umat-umat yang lain.”

Dalam sebuah hadits diberitakan, bahwa apabila dari langit akan turun suatu bencana, maka bencana itu akan diangkat oleh dan dari orang-orang yang memakmurkan masjid. (Jami’ush Shaghir)

Tertulis juga dalam beberapa hadits lainnya, bahwa Allah Swt. meng-haramkan neraka untuk membakar anggota badan yang digunakan untuk sujud (apabila disebabkan oleh amal perbuatannya yang buruk dia masuk neraka, maka bagian yang digunakan untuk sujud tidak akan terbakar oleh api). Dalam hadits lain disebutkan bahwa shalat akan menghitamkan mulut syetan. Dan sedekah akan mematahkan tulang punggungnya. (Jami’ush Shaghir)

Dalam hadits lain Rasulullah saw. bersabda, “Shalat adalah obat bagi segala penyakit.” (Jami’ush Shaghir)

Dalam hadits lain disebutkan ada sebuah kisah yang berhubungan dengan hal itu. Suatu ketika Abu Hurairah r.a. menekan perutnya, kemudian Rasulullah saw. bertanya, “Apakah perutmu sakit?” “Ya” Jawab Abu Hurairah. Rasulullah saw. bersabda, “Bangunlah dan kerjakan shalat, karena shalat adalah obat bagi segala penyakit.” (Ibnu Katsir)

Suatu ketika Rasulullah saw. berpimpi melihat surga dan beliau men-dengar suara langkah terompah Bilal r.a. kemudian pada waktu Shubuh Rasulullah saw. bertanya kepada Bilal r.a., “Apakah amalan isitimewamu sehingga suara langkah terompahmu sudah terdengar di dalam surga?” Bilal r.a. menjawab, “Aku selalu berusaha memperbaharui wudhuku apabila batal pada siang ataupun malam hari, kemudian melaksanakan shalat Tahiyyatul Wudhu sebanyak yang aku mampu.” (al Fath)

Safiri rah.a. berkata, “Orang-orang yang meninggalkan shalat Shubuh, maka para malaikat akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang berdosa. Dan orang-orang yang meninggalkan shalat Zhuhur, maka akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang rugi. Dan orang yang meninggalkan shalat Ashar akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang bermaksiat. Dan yang meninggalkan shalat Maghrib, akan digolongkan ke dalam golongan orang yang kafir. Dan yang meninggalkan shalat Isya, maka akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang menyia-nyiakan hak Allah Swt.” (Ghaliyatul Mawa’izh)

Allamah Sya’rani rah.a. berkata, “Hal ini seharusnya kita pahami bahwa setiap musibah akan diangkat dari perkampungan yang penduduknya menjaga shalat. Begitu juga sebaliknya, musibah akan terus menimpa suatu tempat yang penduduknya melalaikan shalat. Misalnya gempa bumi, halilintar, rumah-rumah yang ditelan bumi, maka tidaklah heran jika hal itu terjadi karena mereka mengabaikan shalat. Dan dalam pikiran kita jangan merasa bahwa saya sudah melakukan shalat, saya tidak peduli terhadap orang lain. Apabila terjadi bencana, maka bencana itu akan menimpa seluruhnya. (Hal ini telah disebutkan di dalam hadits ketika Rasulullah saw. ditanya, “Apakah mereka akan ditimpa azab walaupun ada di antara mereka orang-orang yang saleh?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, jika kemungkaran sudah merajalela.”

Oleh karena itu, tugas kita sekarang adalah sesuai dengan kemampuan kita, hendaknya berusaha untuk mengajak kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran. (Lawaqihul Anwar).



Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »