loading...
Home » » Asal Usul Sunan Drajat

Asal Usul Sunan Drajat

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 10 March 2017

Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Qosim, beliau putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang. 
Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu ayahnya kemudian diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik. 
Asal Usul Sunan Drajat

Raden Qosim mulai perjalanannya dengan naik perahu dari Gresik sesudah singgah di tempat Sunan Giri. 

Dalam perjalanan ke arah barat itu perahu beliau tiba-tiba dihantam ombak yang besar sehingga menabrak karang dan hancur. 
Hampir saja Raden Qosim kehilangan nyawa, tapi bila Tuhan belum menentukan ajal seseorang bagaimana pun hebatnya kecelakaan pasti dia akan selamat, demikian pula halnya dengan Raden Qosim. 

Secara kebetulan seekor ikan besar yaitu ikan talang datang kepadanya. Dengan menunggang punggung ikan tersebut Raden Qosim dapat selamat hingga ke tepi pantai. 

Raden Qosim sangat bersyukur dapat lolos dari musibah itu. 
Beliau juga berterima kasih kepada ikan talang yang dengan lantarannya dia selamat. 
(tentu maksudnya berterima kasih kepada Allah, karena Allah telah mengirimkan ikan talang itu menjadi media pertolongan Allah kepadanya). 

Untuk itu beliau telah berpesan kepada anak keturunannya agar jangan sampai makan daging ikan talang.
 Bila pesan ini dilanggar akan mengakibatkan bencana, yaitu ditimpa penyakit yang tiada lagi obatnya. 

Ikan talang itu membawa Raden Qosim hingga ke tepi pantai yang termasuk wilayah desa Jelag (sekarang termasuk wilayah desa Banjarwati), kecamatan Paciran.

Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat setempat dengan antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa Raden Qosim adalah putra Sunan Ampel seorang Wali besar dan masih terhitung kerabat keraton Majapahit. 

Di desa Jelag itu Raden Qosim mendirikan Pesantren. 
Karena caranya menyiarkan agama Islam yang unik maka banyaklah orang yang datang berguru kepadanya. 

Setelah menetap satu tahun di desa Jelag, Raden Qosim mendapat ilham supaya menuju ke arah selatan, kira-kira berjarak 1 kilometer, di sana beliau mendirikan surau langgar untuk berdakwah.

Tiga tahun kemudian secara mantap beliau mendapat petunjuk agar membangun tempat berdakwah yang strategis yaitu di tempat ketinggian yang disebut Dalem Duwur. 

Di bukit yang disebut Dalem Duwur itulah yang sekarang dibangun Museum Sunan Drajad, adapun makam Sunan Drajad terletak di sebelah barat Museum tersebut. 

Raden Qosim adalah pendukung aliran putih yang dipimpin oleh Sunan Giri. Artinya, dalam berdakwah adalah pendukung aliran Putih yang dipimpin oleh Sunan Giri. 
Artinya, dalam berdakwah menyebarkan agama Islam, beliau menganut jalan lurus, jalan yang tidak berliku-liku. 

Agama harus diamalkan dengan lurus dan benar sesuai dengan ajaran Nabi. Tidak boleh dicampur baur dengan adat dan kepercayaan lama. 
Meski demikian beliau juga mempergunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwah.

Di dalam museum yang terletak di sebelah timur makamnya terdapat seperangkat bekas gamelan Jawa, hal itu menunjukkan betapa tinggi penghargaan Sunan Drajad kepada kesenian Jawa. 

Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut sebagai seorang Wali yang hidupnya paling bersahaja, walau dalam urusan dunia beliau juga sangat rajin mencari rezeki. 
Hal itu disebabkan sikap beliau yang dermawan. 
Di kalangan rakyat jelata beliau bersifat lemah lembut dan sering menolong mereka yang menderita.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Sudah Berkunjung ! Lihat Update Berikutnya