loading...
Home » » Kerinduan Seorang Ibu (Kisah Sunan Kalijaga)

Kerinduan Seorang Ibu (Kisah Sunan Kalijaga)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 09 March 2017

Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup. 

Terlebih setelah usaha Adipati Tuban menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil. 

Hati ibu Raden Said seketika berguncang. 
Kebetulan saat ditangkap oleh para prajurit Tuban, kepala perampok itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis dikenakan Raden Said. 

Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah.
 Dari pengakuan perampok itu tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.

 Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. 
Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat disayanginya itu. 

Sang Ibu tak pernah tahu bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian sudah kembali ke Tuban. Hanya saja tidak langsung ke Istana Kadipaten Tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang. 

Untuk mengobati kerinduan sang Ibu. Tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi.
 Yaitu membaca Qur'an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim ke istana Tuban. Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten. 

Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan isterinya. 
Tapi Raden Said, masih belum menampakkan diri. 
Banyak tugas yang masih dikerjakannya.
 Diantaranya menemukan adiknya kembali. 
Pada akhirnya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan.

Tak terkirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan isterinya menerima kedatangan putra-putri yang sangat dicintainya itu. 

Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, akhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putra Dewi Rasawulan dan Empu Supa. Raden Said meneruskan pengembaraannya. 
Kerinduan Seorang Ibu (Kisah Sunan Kalijaga)

Berdakwah atau menyebarkan Islam di Jawa Tengah hingga Jawa Barat. 

Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat diterima dan dianggap sebagai Guru se Tanah Jawa. Dari petani, pejabat, pedagang, bangsawan dan raja-raja dapat menerima ajaran Sunan Kalijaga yang berciri khas Jawa namun tetap Islami. 

Dalam usia lanjut beliau memilih Kadilangu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir. 
Hingga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak. 

Semoga amal perjuangannya diterima di sisi Allah. Amin..

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Sudah Berkunjung ! Lihat Update Berikutnya