loading...
Home » » Mencari Guru Sejati (Kisah Sunan Kalijaga)

Mencari Guru Sejati (Kisah Sunan Kalijaga)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 09 March 2017

Kemanakah Raden Said sesudah diusir dari Kadipaten Tuban? 

Ternyata ia mengembara tanpa tujuan pasti. 
Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi. 
Selama bertahun-tahun dia menjadi perampok budiman. 
Mengapa disebut perampok budiman? 

Karena hasil rampokan itu tak pernah dimakannya. 

Seperti dulu, selalu diberikan kepada fakir miskin. 
Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat. 
Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. 
Orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya. 

Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. 
Dari jauh Brandal Lokajaya sudah mengincarnya. 

Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan.

 Terus diawasinya orang tua berjubah putih itu. 

Setelah dekat dia hadang langkahnya. Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. 

Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur. 
Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. 

Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipegangnya. 
Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas.
Mencari Guru Sejati (Kisah Sunan Kalijaga)


Raden Said heran melihat orang itu menangis.

Segera diulurkannya kembali tongkat itu,"Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan".

"Bukan tongkat ini yang kutangisi,"
 ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya.

"Lihatlah! Aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. 
Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi".

"Hanya beberapa lembar rumput. 
Kau merasa berdosa?", 
Tanya Raden Said heran.

"Ya, memang berdosa! Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa. 

Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa!", jawab lelaki itu. 

Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu. 

"Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini?".

"Saya menginginkan harta".

"Untuk apa?".

"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita".

"Hem, sungguh mulia hatimu, sayang caramu mendapatkannya yang keliru".

"Orang tua apa maksudmu?".

"Boleh aku bertanya anak muda?", 

desah orang tua itu.

"Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?".

"Sungguh perbuatan bodoh," 

sahut Raden Said.

"Hanya menambah kotor dan bau pakaian itu saja".

 Lelaki itu tersenyum.

"Demikian pula amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing". 

Raden Said tercekat.

Lelaki itu melanjutkan ucapannya,"

Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal".

Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu.

Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. 
Betapa keliru perbuatannya selama ini. Dipandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. 

Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik pada lelaki berjubah putih itu.

"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat saat itu. 

Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Kau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau berubah caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya!".

Raden Said makin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini.

"Kalau kau mau kerja keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. 
Itu barang halal. 
Ambillah sesukamu!" 

Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. 

Seketika pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya.
 Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. 
Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya.

 Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir, kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya. 

Tapi, setelah ia mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap masih menjadi emas. 

Berarti orang itu tidak menggunakan sihir.
 Ia benar-benar merasa heran dan penasaran. 

Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang itu sehingga mampu merubah pohon aren menjadi emas? 

Selama beberapa saat Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. 

Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah menjadi emas seluruhya. 
Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. 

Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. 
Pemuda itu terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan.

Ketika ia sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti aren-aren lainnya. 

Raden Said bangkit berdiri, mencari orang berjubah putih tadi. 
Tapi yang dicarinya sudah tak ada di tempat. 

Ucapan orang tua itu masih terngiang di telinganya. 
Tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing.

 Tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan. 
Raden Said mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan. 

Sepertinya santai saja orang itu melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. 

Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis dia baru sampai di belakang lelaki berjubah putih itu.
 Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. 
Tak ada jembatan, dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia harus menyeberang.

"tunggu"

 ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.

"Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid, pintanya. 

"Menjadi muridku?", tanya orang itu.

"Mau belajar apa?".

"Apa saja asal Tuan menerima saya sebagai murid"

"Berat, berat sekali anak muda, bersediakah kau menerima syarat-syaratnya?".

"Saya bersedia" Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. 

Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya. Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.

Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. 
Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja. 

Kakinya tidak basah terkena air. 
Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali. 

Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur'an yaitu kisah Ashabul Kahfi, maka ia segera berdoa kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam. 
Doanya dikabulkan. 

Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun. 

Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. 

Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said. 

Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan azan, pemuda itu membuka sepasang matanya. 

Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. 
Kemudian dibawa ke Tuban. 

Mengapa ke Tuban? 
Karena Lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang. 

Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya, yaitu tingkat para waliullah.
 Di kemudian hari Raden Said terkenal sebagai Sunan Kalijaga. 

Kalijaga artinya yang menjaga sungai. Karena dia pernah bertapa di tepi sungai. 
Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup di masa itu. 
Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar.

Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja. Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup, itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama, membawa iman sebagai penunjuk jalan kehidupan. Raden Said kemudian disuruh menunggui tongkat atau agama di tepi sungai. 
Itu artinya Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yang banyak mempunyai aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama yaitu Hindu dan Budha. 

Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sungai tanpa amblas ke dalam sungai. 
Bahkan sedikit pun ia tak terkena percikan air sungai. 
Itu artinya Sunan Bonang dapat bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri yaitu Islam.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Sudah Berkunjung ! Lihat Update Berikutnya