loading...
Home » » Tugas Sebagai Senopati (Kisah Sunan Kudus)

Tugas Sebagai Senopati (Kisah Sunan Kudus)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 10 March 2017

Malam hitam pekat, udara musim kemarau terasa sangat dingin menusuk tulang.
Penduduk desa Pengging yang terletak di tepi hutan, malam itu tak dapat tidur, sebab malam itu terdengar auman harimau sambung-menyambung, terus menerus.
Para penduduk berjaga-jaga, kalau-kalau malam itu harimau yang mengaum itu akan masuk ke desa dan memangsa hewan ternak mereka.
Tugas Sebagai Senopati (Kisah Sunan Kudus)

Tapi sampai pagi tidak ada seekor harimau tampak masuk kampung. Para penduduk penasaran.
Mereka beramai-ramai masuk ke dalam hutan untuk memeriksa, apakah benar di dalam hutan yang sudah mereka kenal selama ini ada harimaunya.

Dengan senjata siap di tangan mereka siap menghadapi segala kemungkinan.

Di tengah hutan, bukan harimau yang mereka dapatkan, melainkan tujuh orang santri dan seorang berjubah putih yang tampak agung berwibawa.

"Apakah tuan melihat harimau di sekitar hutan ini?" tanya tetua desa.

"Tidak", jawab lelaki berjubah putih itu.

"Semalam kami tidur di hutan ini tapi tidak melihat seekor harimau pun".

"Aneh, semalaman kami tak dapat tidur karena auman suara harimau yang terus menerus", gunam tetua desa.

"Kalau begitu namakanlah tempat ini desa Sima.
Karena kau mendengar suara Sima (harimau) padahal tak ada Sima", kata lelaki berjubah putih.

Tetua desa itu menurut, hingga sekarang tempat lelaki berjubah putih bermalam itu dinamakan desa Sima.

Lelaki berjubah putih itu kemudian meneruskan perjalanannya ke Pengging untuk menemui Adipati Kebo Kenanga atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pengging.

 Pagi itu udara masih terasa menggigit tulang.
Seiring dengan langkah lelaki berjubah putih dan tujuh orang pengikutnya yang makin mendekati ujung desa Pengging tiba-tiba di udara nampak dua ekor gagak terbang sambil mengeluarkan suara khasnya.
Adanya suara burung gagak adalah lambang kematian, berarti akan ada sosok manusia yang dicabut nyawanya oleh Sang Malaikat Maut.

Siapakah orang yang bakal mati hari ini?
Siapa pula orang berjubah putih yang nampak agung dan berwibawa itu?

Mengapa tujuh orang santri terus mengikutinya dari belakang?

Apa tujuan mereka ke desa Pengging?

 Pengging atau Pajang pada beberapa tahun silam bukanlah sebuah desa terpencil.
Tugas Sebagai Senopati (Kisah Sunan Kudus)

Pengging adalah sebuah Kadipaten yang sangat terkenal karena Adipati Handayaningrat yang memimpin adalah Putra Prabu Brawijaya Penguasa Majapahit.

Adipati Handayaningrat mempunyai dua orang putra lelaki.
Yang pertama bernama Kebo Kanigara, yang kedua Kebo Kenanga.

Ketika sang Adipati meninggal dunia, Kebo Kanigara mengembara tak ketahuan rimbanya.

Sedang Kebo Kenanga masuk Islam menjadi murid Syekh Siti Jenar. Tenggelam dalam alur faham Siti Jenar sehingga pikirannya berubah.

Tak mau mengurus lagi Kadipaten warisan orang tuanya.
Ia malah mengajak rakyatnya untuk hidup wajar sebagai petani biasa. Sungguh mengagumkan.

Hasil panen para petani Pengging kemudian tersebar ke penjuru desa lainnya.
Bahkan menggetarkan dinding-dinding istana Demak Bintoro, karena Ki Ageng Pengging tak pernah sowan menghadap Sri Sultan.

Dan tentu saja tak pernah menyerahkan upeti pertanda setia dan tetap tunduk kepada Demak Bintoro.

 Karena itu Raden Patah segera mengutus dua perwira utama untuk menengok Ki Ageng Pengging. "Ki Ageng", kata utusan itu setelah tiba di hadapannya.

"Sudah dua tahun Andika tidak menghadap Gusti Sultan Demak. Kami diperintahkan mengingatkan Andika, sebab Gusti Sultan sudah sangat merindukan kehadiran Andika selaku saudaranya".
 Ki ageng Pengging menatap dua orang utusan itu dengan tajam.

"Buat apa seorang petani desa menghadap Sri Sultan?
Hanya bikin malu Sri Sultan saja.
Hai utusan kembali-lah dan katakan kepada Sri Sultan aku tak dapat memenuhi panggilannya.
Mohonkan ampun atas sikapku ini". Dua orang utusan itu segera kembali ke istana Demak.

Tak berapa lama kemudian Ki Ageng Pengging memanggil dalang wayang beber.
Selepas shalat Isya' dalang pun segera memainkan lakon wayangnya. Penduduk berduyun-duyun menyaksikan pertunjukan gratis itu. Ketika hampir muncul fajar sidik di ufuk timur.

Tiba-tiba istri Ki Ageng Pengging menggerang kesakitan.
Ia merasa si jabang bayi akan segera lahir.
 Ki Ageng Pengging segera memerintahkan Ki Dalang untuk mengakhiri pertunjukannya.
Orang-orang pun segera sibuk menolong istri Ki Ageng Pengging. Ternyata yang lahir adalah laki-laki yang elok rupanya.
Ki Ageng Tingkir berkata kepada adik seperguruannya.

"Adimas, karena anakmu lahir bertepatan dengan pagelaran wayang beber maka anakmu kuberi nama Karebet".

"Terima kasih atas kesediaan memberi nama anak ini", ujar Ki Ageng Pengging.

"Mudah-mudahan dia dapat meniru kegagahan dan watak satria Kakang". Ki Ageng Tingkir turut bergembira atas kelahiran putra adik seperguruannya itu.
 Selama tiga hari ia menunggui kelahiran bayi itu di Pengging. Sementara itu, Raden Patah mengatur siasat.
Dua orang utusannya telah gagal memanggil Ki Ageng Pengging.

Sekarang dia mengutus Ki Wanapala untuk memanggil Ki Ageng Pengging. Ki Wanapala adalah bekas Mahapatih Demak Bintoro yang sudah mengundurkan diri.
 Kedudukannya telah digantikan anaknya sendiri.
Namun ia masih sering datang ke istana Demak jika diperlukan Raden Patah untuk dimintai pertimbangan. Namun patih senior ini juga tak mampu menjinakkan sikap Ki Ageng Pengging, ia pulang dengan tangan hampa.

Ki Wanapala tak berpanjang kata.
Ia segera kembali ke Demak. Melaporkan segala apa yang didengarnya.
Sri Sultan setuju atas keputusan Ki Wanapala memberi tenggang waktu selama tiga tahun.
Namun ketika tiga tahun lewat Ki Ageng belum menghadap ke Demak juga.
Atas nasehat para Wali, maka Sri Sultan mengirim utusan ketiga.
Yang ditugaskan kali ini adalah Sunan Kudus.
Tugas kali ini harus tuntas.
Karena Sunan Kudus yang terkenal memiliki ilmu logika tinggi dan beribu ilmu kesaktian itu terpilih menangani masalah ini.

Sri Sultan tak perlu mengirim utusan keempat lagi.
Walaupun Sunan Kudus itu Panglima Perang Demak, tetapi para Wali melarangnya menggunakan baju dan seragam militernya.
 Sunan Kudus disarankan agar memakai pakian jubah putih sebab yang dihadapinya adalah seorang santri desa.
Berangkatlah Sunan Kudus dengan iringan tujuh prajurit Demak pilihan yang juga menyamar sebagai para santri biasa.

Tiga tahun memang telah berlalu dengan cepatnya.
 Ki Ageng Pengging tidak pernah menghadap ke Demak.
Bahkan Kadipaten Pengging yang dulu pernah mengalami kejayaan di jaman ayahnya yaitu Adipati Handayaningrat tidak diurus lagi.

Kebo Kenanga, cucu Raja Majapahit itu malah tenggelam dalam dunia kebatinan yang diajarkan oleh Syeikh Siti Jenar.
Walau tampaknya Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging itu tak mengurus pemerintahan Kadipaten, tapi sesungguhnya para prajuritnya masih setia kepadanya, mereka menyembunyikan keperwiraannya di balik baju petani.
Tetapi sewaktu-waktu mereka bisa digerakkan jika diperlukan oleh Ki Ageng Pengging.

Hal ini disadari oleh pemerintah pusat Demak Bintoro.
Itu sebanya Sri Sultan memilih Sunan Kudus untuk menggali sang pembangkang yaitu Ki Ageng Pengging ini.
Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lengang.

Pagi itu penduduk banyak yang pergi ke sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak kelihatan.
Di pusat bekas pemerintahan Adipati Handayaningrat itu kini hanya ada sebuah rumah yang tak seberapa besar.
Bentuknya seperti rumah penduduk lainnya.

 Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung desa.
Dia sendiri berjalan menuju rumah Ki Ageng Pengging.
Langkahnya mantap.
Dia yakin tugasnya kali ini akan membawa hasil.

 Seperti sudah dilambangkan oleh Bende Kyai Sima, yaitu pusaka warisan dari mertuanya yang dibunyikan di dalam hutan saat dia kemalaman.
Bila bende itu dipukul bunyinya seperti harimau maka tandanya akan berhasil, bila tidak mengeluarkan auman harimau berarti akan menemui kegagalan.

Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita setengah baya.
 Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.

"Maaf tuan, sudah beberapa hari Ki Ageng mengurung diri di dalam kamarnya, beliau tidak bisa menemui tamu", kata pelayan itu.

"Aku bukan tamu biasa", kata Sunan Kudus.

"Katakan aku adalah utusan Tuhan yang datang dari Kudus.
Ingin bertemu dengan Ki Ageng Pengging".

Pelayan itu masuk ke dalam rumah menyampaikan pesan Sunan Kudus yang dianggapnya aneh.

Ternyata Ki Ageng bersedia menerima tamunya.
 Sunan Kudus dipersilakan masuk ke dalam rumahnya.
 Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk menghormati tamu khusus itu.
Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng Pengging dan Sunan Kudus.

"Wahai Ki Ageng, saya diperintah oleh Sultan Demak Bintoro.
Manakah yang kau pilih.
Di luar atau di dalam?
Di atas atau di bawah?", tanya Sunan Kudus.

Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam, patih Demak Bintoro.

"jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu", kata Ki Ageng Pengging.

"Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku.
Aku tak bisa memilihnya". Jawaban itu bagi Sunan Kudus adalah sangat jelas.

Berarti Ki Ageng Pengging punya maksud ganda.
Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Jelasnya dia tidak mau mengakui Raden Patah sebagai raja Demak.

Ini pembangkangan namanya. Kasarnya pemberontak! Bahwa Ki Ageng Pengging itu murid Syekh Siti Jenar, gurunya itu sudah dihukum mati karena kesesatannya, Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng Pengging masih meyakini ilmu dari Syeikh Siti Jenar itu atau sudah meninggalkannya sama sekali.

"Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan mati di dalam hidup", kata Sunan Kudus.

"Benarkah apa yang saya katakan itu? Saya ingin melihat buktinya".

"Memang begitu!", jawab Ki Ageng Pengging.

"Kau anggap apa saja aku ini maka aku akan menurut apa yang kau sangka.
Kau anggap aku santri memang aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah aku memang Allah!"

Klop sudah!

Ki Ageng Pengging masih memegang teguh ajaran Syekh Siti Jenar yang berfaham Wihdatul Wujud atau berfilasafat serba Tuhan.

Faham itu adalah bertentangan dengan Islam yang disiarkan para wali, sehingga Syekh Siti Jenar dihukum mati.
 Sunan Kudus juga cerdik, dia tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal, tak mempan senjata apapun juga.

Maka Sunan Kudus bermaksud mengorek kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.

"Seperti pengakuan Ki Ageng, bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya ingin melihat buktinya".

"Jadi itukah yang dikehendaki Sulatan Demak?.
Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus membuat sebab kematianku.
Bagiku hidup dan mati tidak ada bedanya".

Ki Ageng Pengging berhenti sejenak, menatap dalam-dalam wajah Sunan Kudus.

"Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku saja yang mati".

Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng.

Ki Ageng menghela nafas panjang.

"Tusuklah siku lenganku ini.!", ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya.

Sunan Kudus pun melakukannya. Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki Ageng Pengging.

Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan langkah tenang.
 Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa.
Mereka berjalan menuju Demak Bintoro.
Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan jamuan makan menjerit keras manakala melihat suaminya mati di ruang tamu.

Penduduk sekitar berdatangan ke rumahnya.
Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus.

200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin bekas Senopati Kadipaten Pengging mencabut senjata dan berteriak-teriak memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.
 Sunan Kudus berhenti.

Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang Pengging mengejar ke arah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya berada di sebelah utara.

Tidak berapa lama kemudian ribuan prajurit itu lenyap.
Orang Pengging kebingungan, tak tahu harus berbuat apa.
Akal mereka seperti hilang. Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka disadarkan kembali dengan pengerahan ilmunya.

"Jangan turut campur urusan besar ini. Ki Ageng Pengging sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau menghadap ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! Nah, kalian rakyat kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini.

Pulanglah!" Suara Sunan Kudus terdengar berat dan mengandung perbawa kuat. Penduduk Pengging itu seperti baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi adalah seorang Senopati Demak Bintoro yang kondang mempunyai seribu satu macam kesaktian. Mereka tak kan mampu menghadapinya.

"Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini", kata Sunan Kudus.

"Segeralah kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah penghormatan kalian yang terakhir kepada pemimpin kalian" Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain.
Akhirnya mereka kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka. Sunan Kudus dan tujuh pengikutnya segera kembali ke Demak. Cita-cita Ki Ageng Pengging agar anak turunannya menjadi Raja ternyata kesampaian. Anaknya yang bernama Keberet itu diambil anak angkat oleh Ki Ageng Tingkir dan setelah dewasa bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang bakal memindahkan pusat pemerintahan Demak ke desa Pengging atau Pajang.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Sudah Berkunjung ! Lihat Update Berikutnya