loading...
Home » » Dehidrasi (geriatri)

Dehidrasi (geriatri)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 21 April 2017

Dehidrasi

adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik) atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (dehidrasi isotonic) atau hilangnya natrium lebih banyak daripada air (dehidrasi hipotonik).

Dehidrasi hipertonik

ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/ liter) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter).

Dehidrasi isotonic

ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/liter).

Dehidrasi hipotonik

ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/ liter)

Penting diketahui perubahan fisiologi pada usia lanjut.
Secara umum, terjadi penurunan kemampuan homeostatik seiring dengan bertambahnya usia.
Secara khusus, terjadi penuruan respons rasa haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolariatas.

Disamping itu juga terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus, kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, rennin, aldosteron, dan penurunan tanggapan ginjal terhadap vasopressin

PENDEKATAN DIAGNOSIS

Anamnesis Gejala klasik dehidrasi seperti rasa haus, lidah kering, mengantuk.

Pemeriksaan Fisik

Aksila lembab/basah, suhu tubuh meningkat dari suhu basah, diuresis berkurang.

Penurunan turgor dan mata cekung sering tidak jelas.

Penurunan berat badan akut lebih dari 3%, hipotensi ortostatik.

Pemeriksaan Penunjang

Urin:berat jenis (BJ) urin > 1,019 (tanpa adanya glukosuria dan proteinuria), serta rasio blood uria nitrogen/kreatinin > 16,9 tanpa adanya perdarahan aktif saluran cerna.

Kriteria ini dapat dipakai dengan syarat.
Tidak menggunakan obat-obatan sitostatik, tidak ada perdarahan saluran cerna, dan tidak ada kondisi overload (gagal jantung kongestif, sirosis hepatis, dengan hipertensi portal, penyakit ginjal kronik stadium terminal, sindrom nefrotik).

PENATALAKSANAAN

Lakukan pengukuran keseimbangan cairan yang masuk dan keluar secara berkala sesuai kebutuhan.

Pada dehidrasi ringan, terapi cairan dapat diberikan secara oral sebanyak 1500-2500ml/24 jam (30ml/kg berat badan/24 jam) untuk kebutuhan dasar, ditambah dengan penggantian defisit cairan dan kehilangan cairan yang masih berlangsung.

Menghitung kebutuhan cairan sehari, termasuk jumlah insensible water loss sangat perlu dilakukan setiap hari.

Perhatikan tanda-tanda kelebihan cairan seperti ortopnea,sesak napas,perubahan pola tidur, atau confusion. Pemantauan dilakukan setiap 4-8 jam tergantung beratnya dehidrasi.

Cairan yang diberikan secara oral tergantung jenis dehidrasi:
  1. Dehidrasi hipertonik: cairan yang dianjurkan adalah air atau minum daengan kandungan sodium rendah, jus buah seperti apel, jeruk, dan anggur
  2. Dehidrasi isotonic: cairan yang dianjurkan selain air dan suplemen yang mengandung sodium (jus tomat), juga dapat memberikan larutan isotonic yang ada di pasaran
  3. Dehidrasi hipotonik cairan yang dianjurkan seperti di atas tetapi dibutuhkan kadar sodium yang lebih tinggi
Pada dehidrasi sedang sampai berat dan pasien tidak dapat minum per oral, selain pemberian cairan enteral, dapat diberikan rehidrasi parenteral.

Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk dehidrasi tergantung dari jenis dehidrasinya.
Pada dehidrasi isotonic dapat diberikan cairan Na Cl,0,9% atau dekstrosa 5% dengan volume sebanyak 25-30% dari defisit cairan total per hari.

Pada dehidrasi hipertonik digunakan cairan NaCl 0,45%. Dehidrasi hipotonik ditatalaksanakan dengan mengatasi penyebab yang mendasari, penambahan diet natrium dan bila perlu pemberian cairan hipertonik.

KOMPLIKASI
Deteksi dan terapi dini dehidrasi menghasilkan prognosis kesembuhan yang baik.

Bila tidak ada komplikasi maka keseimbangan cairan akan terkoreksi

REFERENSI
  1. Kuswardhani. RA Tuty. Sari. Nina Kemala. Dehidrasi dan gangguan elektrolit. Dalam :Sudoyo, Aru W. Setyohadi. Bambang. Alwi, ldrus. Simadibrata, Marcellus. Setiati, Siti. Buku ajar llmu Penyakit Dalam Edisi V. Jakarta: Pusat lnformasi dan Penerbitan Departemen llmu Penyakit Dalam FKUI- RSCM; 2009. Halaman 797-801.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »