loading...
Home » » Dispepsia (psikosomatis)

Dispepsia (psikosomatis)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 21 April 2017

Dispepsia

merupakan gejala atau kumpulan gejala berasal dari regio gastroduodenum yang dapat berupa nyeri epigastrium, rasa terbakar, rasa penuh setelah makan, perasaan cepat kenyang, dan lainnya termasuk rasa kembung pada area abdomen atas, mual, muntah, dan berdahak.
dispepsia kronik http://www.udan.name

dispepsia kronik

Keluhan dispepsia kronik dapat terjadi terus-menerus, intermiten, atau kambuhan yang dirasakan minimal 6 bulan atau lebih.

Berdasarkan kriteria Roma III, dispepsia fungsional adalah adanya satu atau lebih dari:

  • Rasa penuh (kekenyangan)
  • setelah makan (bothersome postprandial fullness)
  • Perasaan cepat kenyang
  • Nyeri ulu hati
  • Rasa terbakar di ulu hati


Tidak ditemukan kelainan struktural yang dapat menjelaskan keluhan saat dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (SCBA) Keluhan berlangsung > 3 bulan terus menerus, atau dimulai sejak 6 bulan sebelum diagnosis ditegakkan.

Dispepsia fungsional

dibagi kedalam dua kategori diagnostik, yaitu:

  1. Postprandial distress syndrome (PDS) 
  2. Epigastric Pain Syndrome (EPS) 


Penyebab dispepsia fungsional

bersifat multifaktorial, diduga dapat timbul karena keterlambatan pengosongan lambung, hipersensitif aferen visera terhadap zat asam dan lemak sehubungan dengan rangsang sentral maupun perifer, status inflamasi ringan, serta predisposisi genetis.

Rangsang psikis atau emosi dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna melalui jalur neurogenik atau jalur neurohormonal.

PENDEKATAN DIAGNOSIS

Diagnosa ditegakkan berdasarkan klinis dan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas Anamnesis Rasa sakit dan tidak enak di ulu hati. Perih, mual, muntah, cepat kenyang, kembung, sering bersendawa, regurgitasi.

Keluhan dirasakan umumnya berhubungan / dicetuskan dengan adanya stres, berlangsung lama dan sering kambuh.
Sering disertai gejala- gejala ansietas dan depresi (misalnya dysphoric state) Pemeriksaan Fisik Evaluasi sistem kardiovaskuler, hepatobilier, ginjal, tiroid: dalam batas normal Turgor kulit, berat badan.

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium: Hb, Ht, leukosit, gula darah, faal ginjal, tes fungsi hati, urin lengkap, darah samar feses, dan pemeriksaan laboratorium lain sesuai indikasi untuk menyingkirkan diagnosis banding (misal hormon tiroid, kalsium, dsb)

EKG Radiologi : Foto lambung dan duodenum dengan kontras Pemeriksaan endoskopi bagian atas

(EGD) : Pemeriksaan untuk Helicobacter Pylori Stress analyzer/ Heart rate variability untuk menilai vegetative imbalance Diagnosis Banding Dispepsia organik, misalnya ulkus peptikum, gastritis erosif, infeksi saluran cerna, GERD Gangguan pada sistem hepato-bilier dan pankreas Intoleransi laktosa a tau karbohidrat lain (fruktosa, sorbitol), sindrom kolon iritabel

Dispepsia yang disebabkan penyakit kronik seperti gagal ginjal, diabetes melitus, keganasan,dsb Iskemia jantung, gagal jantung kongestif, tuberkulosis Gangguan psikologis (ansietas dengan ataupun tanpa aerofagia, gangguan penyesuaian, somatisasi pada depresi, hipokondriasis)

PENATALAKSANAAN

Pendekatan psikosomatik terhadap aspek fisik, psikososial dan lingkungan:
psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku Pengaturan diet untuk mencegah pencetus gejala.

Simptomatik:
diberikan antasida, antagonis H2 (simetidin, ranitidin), penghambat pompa proton (omeprazol, lansoprazol) dan obat prokinetik (metoklopramid, domperidon, cisapride).

Bila jelas terdapat ansietas atau depresi diberikan anti cemas atau anti depresan yang sesuai.

Eradikasi Helicobacter pylori bila terbukti ada infeksi penyerta.
Obat relaksan fundus gaster (nitrat, sildenafil (phosphodiesterase-S inibitor) dan sumartiptan (antagoni reseptor 5-HT 1)

KOMPLIKASI

Dehidrasi bila muntah berlebihan Gangguan gizi Berat badan turun

PROGNOSIS

Dispepsia fungsional

merupakan penyakit kronis dan keluhan dapat menyerupai gangguan gastrointestinal lainnya.

Pada beberapa pasien, keluhan akan tetap dirasakan 10 % kasus akan mempunyai keluhan menyerupai gangguan gastrointestinal lain, sedangkan 10% kasus akan remisi spontan.

Walaupun perjalanan penyakit ini tidak stabil, tetapi hanya 2 % kasus akan berkembanga menjadi ulkus peptikum dalam 7 tahun, belum terbukti penyakit ini menyebabkan kematian.

REFERENSI

Mudjaddid E.
Dispepsia Funsional.
Dalam: Sudoyo AW, et al editor.
Buku Ajar llmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen llmu Penyakit Dalam FKUI, 2006. him 916 Hasler, W L. Naussea, Vomiting and Indigestion.
In : Kasper D L, et al ediors. Harrison's Principal of Internal Medicine 16th ed. Me Grow-Hill Companies: 2005. p222- 223. Djojoningrat Dharmika.
Dispepsia fungsional.
Buku Ajar llmu Penyakit Dalam jilid 1 edisi IV.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen llmu Penyakit Dalam FKUI, 2006. Hal 354-356.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »