loading...
Home » » Hari ‘Asyura & Kenapa Kita Disunnahkan Untuk Berpuasa?

Hari ‘Asyura & Kenapa Kita Disunnahkan Untuk Berpuasa?

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 15 April 2017

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wr. wb,

bagaimana sejarahnya hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram) dan kenapa kita disunnahkan untuk berpuasa pada hari tersebut?

Dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari hari ‘Asyura ini?


Mohon pencerahannya.
Dari: Hamba Allah.
Jawab
Jawaban:
Wa’alaikumsalam wr. wb,

Bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam sistem penanggalan umat Islam yang dinamakan dengan tahun hijriyyah memiliki beberapa keistimewaan.

Bulan Muharram adalah salah satu dari 4 bulan haram dalam Islam yang pada bulan-bulan itu diharamkan untuk berperang.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS.al-Taubah [9]: 36).

Dalam hadits juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya:

Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.
Dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhirah) dan Sya’ban.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Pada bulan Muharram inilah ada suatu hari yang kita umat Islam sangat dianjurkan untuk berpuasa, yaitu hari ‘Asyura, bahkan sebelum puasa ramadhan diwajibkan maka terlebih dahulu umat Islam diwajibkan puasa hari ‘Asyura.

ما رواه عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَأَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ ، فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa umat jahiliyyah berpuasa pada hari ‘Asyura dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan.

Ketika puasa Ramadhan diwajibkan Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya ‘Asyura adalah hari dari hari-hari Allah maka barangsiapa yang ingin berpuasa pada hari itu maka berpuasalah dan barangsiapa yang yang tidak ingin puasa maka tidak apa-apa meninggalkannya.
(HR. Muslim dan Ahmad).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، ” أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Kaum Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di zaman jahiliyyah, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memrintahkan untuk berpuasa pada hari itu sampai diwajibkannya puasa Ramadhan.

Dan Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang ingin berpuasa pada hari itu (hari Asyura) maka berpuasalah dan barangsiapa yang ingin berbuka (tidak berpuasa) maka berbukalah.”
(HR. Bukhari).

Adapun sebab kita disunnahkan untuk berpuasa pada hari Asyura ini adalah karena pada hari itulah Nabi Musa, Allah selamatkan dari kejaran Fir’aun dengan cara membelah laut sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ ؟ ” ، فَقَالُوا : هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ، فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan menemukan kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura maka Nabi bertanya,
“Hari apakah ini yang kalian berpuasa pada hari ini?”

Kaum Yahudi menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, di mana pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa dan umatnya serta menenggelamkan Fir’aun dengan pengikutnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur dan kami juga berpuasa”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda:

“Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.

Maka Rasulullah berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh umat Islam untuk berpuasa pada hari itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dari peristiwa selamatnya Musa dan kaumnya dari Fir`aun dan bala tentaranya ini ada satu pelajaran yang dapat kita ambil bahwa kebatilan itu akan hancur dan sirna betapapun kuat dan kokohnya ia, sebaliknya kebenaran itu pasti akan menang meskipun ia lemah dan tidak terlihat.
Hal itu dapat kita lihat dalam peristiwa Fir`aun yang memiliki segalanya pada zaman, tidak ada kekuatan yang dapat menandinginya.
Tetapi, ia melampaui batasnya dan menebar kerusakan, begitu keras kepala dalam kekufurannya, berbuat zalim terhadap rakyatnya dan memecah-belah kaumnya.
Sehingga kemudian ia melihat dalam mimpinya bahwa kerajaannya akan hancur di tangan salah seorang dari keturuan Bani Israel.
Maka ia pun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari Bani Israel.
Tetapi Allah dengan kuasa dan hikmah-Nya menyelamatkan Musa, bahkan ia kemudian tumbuh besar di istana milik Fir`aun sendiri dan di bawah tanggungannya.

Sampai kemudian Musa diutus oleh Allah kepada Fir`aun untuk mengajaknya beriman kepada Allah ta’ala.
Fir`aun menolak dan malah kemudian semakin berlaku zalim dan aniaya terhadap yang beriman kepada Musa, hingga kemudian Allah memberikan jalan keluar dan kemenangan bagi Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya.

Allah Subhanallahu ta’ala mengisahkan ini dalam al-Qur`an:

فَلَمَّا تَرَ‌اءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَ‌كُونَ ﴿٦١﴾ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَ‌بِّي سَيَهْدِينِ ﴿٦٢﴾ فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِ‌ب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ‌ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْ‌قٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ ﴿٦٣﴾ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِ‌ينَ ﴿٦٤﴾ وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ أَجْمَعِينَ ﴿٦٥﴾ ثُمَّ أَغْرَ‌قْنَا الْآخَرِ‌ينَ ﴿٦٦﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُ‌هُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٦٧﴾ وَإِنَّ رَ‌بَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّ‌حِيمُ ﴿٦٨

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa:

“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”
Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.
Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.
Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
(QS. asy- Syu’ara [26]: 61-68).

Sepanjang sejarah manusia peristiwa seperti ini terus berulang, dimana ada sekolompok orang yang sombong, sewenang-wenang dan berbuat zalim. Mereka tertipu dengan kekuatan dan kekuasaan yang ada di tangan mereka. Sebaliknya ada orang-orang beriman yang lemah, hati mereka begitu berharap mendapatkan pertolongan Allah ta’ala, tetapi mereka terus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah ta’ala.
Maka datanglah hari besar seperti hari ‘Asyura ini.
Kebatilan ingin tinggi dan berkuasa, sedangkan Allah menginginkan kebenaran.
Pada akhirnya yang berlaku adalah kehendak Allah yang milik-Nya segala kekuasaan dan kekuatan.

Allah Subhanallahu ta’ala berfirman menggambarkan hal ini

 نَتْلُو عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْ‌عَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٣﴾ إِنَّ فِرْ‌عَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْ‌ضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ ﴿٤﴾ وَنُرِ‌يدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْ‌ضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِ‌ثِينَ ﴿٥﴾ وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ وَنُرِ‌يَ فِرْ‌عَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا يَحْذَرُ‌ونَ ﴿٦

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.

Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).

Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.
(QS. al-Qashash [28]: 3-6).

Dan perlu diketahui bahwa surat al-Qashash ini turun di Makkah, dan kaum muslimin waktu itu masih sedikit dan lemah.
Sedangkan kaum musyrik Quraisy adalah kaum yang berkuasa, yang memiliki kekuatan dan kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat jahiliyyah.
Dalam hal ini, Allah ingin memberikan kabar gembira bagi kaum muslimin bahwa mereka pasti akan menang.

Dan untuk menjelaskan kepada mereka bahwa hanya ada satu kekuatan di alam jagad raya ini, yaitu kekuatan Allah.
Serta hanya ada satu yang berharga yaitu keimanan.
Barangsiapa bersama Allah dengan imannya, maka ia tidak perlu takut dan khuwatir meskipun ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan duniawi.

Sebaliknya barangsiapa yang kafir dan melampaui batas, maka ia tidak akan pernah tenang dan aman meskipun seluruh kekuatan di bumi mendukungnya.
Jika kita meyakini apa yang ada dalam ayat al-Qur`an ini maka sebagai umat Islam kita akan selalu optimis, meskipun sekarang keadaan umat Islam di berbagai belahan bumi sangat memprihatinkan.
Kemenangan dan pertolongan Allah itu pasti datang bagi agama dan hamba-Nya yang beriman pada waktu yang Allah kehendaki.

Sebagai orang beriman kita hanya diperintahkan untuk melakukan amal yang terbaik sesuai dengan kondisi dan keadaan kita karena dengan amal terbaik itulah nanti Allah akan memberikan ganjaran dan balasan yang berlipat ganda.

Wallahu a’lam bish shawab..

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »