loading...
Home » » Hipertensi (nefrologi)

Hipertensi (nefrologi)

Diterbitkan Oleh Catatan Seorang Hamba Pada 21 April 2017

Hipertensi

adalah keadaan dimana tekanan darah (TD) sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan / atau sama atau lebih dari 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang minum obat anti hipertensi.
Hipertensi (nefrologi)

PENDEKATAN DIAGNOSIS

Anamnesis
  1. Durasi hipertensi
  2. Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingya bila ada
  3. Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
  4. Kebiasaan makan dan psikososial
  5. Faktor resiko lainnya: kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,diabetes, inaktivitas fisik
  6. Bukti hipertensi sekunder: riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan, kelemahan otot (palpitasi,keringat berlebihan,tremor), tidur tidak teratur,mengorok, somnolen di siang hari, gejala hipo atau hipertiroidisme, riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
  7. Bukti kerusakan organ target: riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual

Pemeriksaan Fisik
  1. Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda-tanda vital
  2. Pengukuran Tekanan Darah metode auskultasi:
  3. Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid
  4. Palpasi pulsasi arteri femoralis, pedis
  5. Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
  6. Funduskopi
  7. Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan Penunjang

Urinalisis, tes fungsi ginjal, ekskresi albumin, serum BUN, kreatinin, gula darah, elektrolit, profil lipid,foto toraks, EKG.
sesuai penyakit penyerta: asam urat,USG ginjal, ekokardiografi.

Diagnosis Banding

Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll

PENATALAKSANAAN
  1. Modifikasi gaya hidup
  2. Pemberian B-Bloker pada pasien unstable angina / non-ST elevated myocardial infark(NSTEMI) atau STEMI harus memperhatikan kondisi hemodinamik pasien. B-Bloker hanya diberikan pada kondisi hemodinamik stabil.
  3. Pemberian angiotensin convertin enzyme inhibitor (ACE-I) atau angiotensin receptor bloker (ARB) pada pasien NSTEMI atau STEMI apabila hipertensi persisten, terdapat infark miokard anterior, disfungsi ventrikel kiri, gagal jantung, atau pasien menderita diabetes dan penyakit ginjal kronik
  4. Pemberian antagonis aldosteron pada pasien disfungsi ventrikel kiri bila terjadi gagal jantung berat (misal gagal jantung NYHA kelas III-IV atau fraksi ejeksi ventrikel kiri < 40% dan klinis gagal jantung
  5. Kondisi khusus lain:
    1. Obesitas dan sindrom metabolik
    2. terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi 150 mg/dl, kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki - laki atau < 50 mg/dl pada perempuan.Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan ACE-I. Pilihan lain ARB,CCB.
    3. Hipertropi ventrikel kiri
      • Tatalaksana agresif termasuk penurunan berat badan dan restriksi garam
      • Pilihan terapi: dengan semua kelas antihipertensi
      • Kontra indikasi: vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil
    4. Penyakit arteri perifer: semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin.
    5. Lanjut usia (>65 tahun)
      • Identifikasi etiologi lain yang bersifat irreversibel
      • Evaluasi kerusakan organ target
      • Evaluasi penyakit komorbid lain yang mempengaruhi prognosis
      • Identifikasi hambatan dalam pengobatan
      • Terapi farmakologis: diuretik thiazid, CCB
    6. Kehamilan
      • Pilihan terapi: metildopa, Beta Bloker, dan vasodilator
      • Kontraindikasi: ACE-I dan ARB

KOMPLIKASI
Hipertrofi ventrikel kiri, protein uria dan gangguan fungsi ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung.

PROGNOSIS

Hipertensi

tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi yang sesuai.
Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target.
Oleh karena itu, obat antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi.

REFERENSI
  • Kotchen T.Hypertensive vascular disease. In: Longo DL.Fauci AS,Kasper DL,Hauser SL,Jameson JL, Loscalzo J. Harrison's Principles of Internal Medicine.18th Edition.New York:McGraw-Hill:2012.

Terimakasih Sudah Membaca Artikel Ini & Jangan Lupa Dishare Ya, By Catatan Seorang Hamba

Posting Sebelumnya
« Lihat Postingan Sebelumnya
Selanjutnya
Post Selanjutnya »